KETELADANAN KUNCI SUKSES MEMIMPIN
Membalik-balik kembali lembaran TAP MPR Nomor II/MPR/1978 tentang Pedoman Pengahayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) terutama butir-butir yang jumlahnya 36 terasa indah sekali. Semua yang disebutkan adalah nilai-nilai yang sangat mulia. Bila nilai-nilai tersebut dilaksanakan dengan baik oleh penyelenggara Negara, aparatur pemerintah, dan masyarakat tentu kehidupan negeri kita akan makmur, hubungan antarmanusia akan damai dan indah.
Namun kenyataan berbicara lain, setelah memasuki era reformasi pada tahun 1998, TAP MPR Nomor II/MPR/1978 tentang Pedoman Pengahayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) dicabut karena dianggap P4 telah disalahgunakan oleh pemegang kekuasaan. Tindak lanutnya segala sesuatu yang berkaitan dengan P4 dihilangkan. BP7 (Badan Pembinaan, Pendidikan dan Pelaksanaan P4) sebagai institusi yang bertanggung melaksanakan P4 dibubarkan.
Kalaulah kita merenung dengan hati yang jernih, bertanya tentang kebangkrutan bangsa ini, apakah karena P4 ataukah karena perilaku para pemimpin yang tidak sesuai dengan P4? Mayoritas akan memilih jawaban yang kedua, yaitu karena prilaku buruk dari para pemimpin yang semestinya dapat mencontohkan nilai-nilai mulia dari P4. Tatkala masyarakat ingin melihat contoh kehidupan nyata tentang pelakasanaan P4, yang terlihat adalah contoh jelek dari orang-orang melakukan pemasyarakatan terhadap P4 tersebut.
Kasus pemayarakatan P4 harus menjadi pelajaran bagi bangsa ini, terutama bagi para pemimpin. John Adair mengatakan bahwa apa yang pemimpin perbuat pengaruhnya lebih kuat daripada apa yang dikatakan, karena penyerapan informasi lebih banyak melalui penglihatan daripada yang didengar. Seorang pemimpin harus memberikan contoh. Jika contohnya baik orang cenderung mengabaikannya. Namun bila contohnya jelek maka orang akan segera mengetahui dan memberikan komentar. (Menjadi Pemimpin Efektif, Gramedia,1994).
Di sinilah letaknya keunggulan kitab suci al-Quran. Nabi Muhammad s.a.w. adalah contoh teladan yang baik. Q.S. 33 ayat 21 mengatakan bahwa sesungguhnya telah ada pada (diri) utusan Allah itu contoh teladan yang baik (yaitu) bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan yang banyak mengingat Allah. Wahyu Allah yang disampaikan oleh Rasul kepada manusia telah dipraktekkan dalam kehidupan Rasulullah Muhammad s.a.w. Karena itu Rasul itu adalah contoh yang baik dalam : kepemimpinan, dalam berumah tangga, sebagai seorang kaya, dalam keadaan miskin, dan dalam segala keadaan.
Selain itu al-Quran juga memberikan contoh kehidupan nyata melalui berbagai kisah, antara lain : bagaimana seorang raja yang kaya raya memerintah dengan adil yang dilakoni oleh Nabi Sulaiman a.s., bagaimana tumbangnya pemimpin yang zalim yang dilakoni Firaun, bagaimana tabahnya seorang penyeru kebaikan meskipun dikerjar-kejar mau dibunuh, yang dilakoni oleh Musa a.s., bagaimana Allah memberikan pertolongan kepada utusannya yang dianiaya oleh raja yang zalim, dalam kisah dibakarnya nabi Ibrahim a.s. oleh raja Namrud, dan masih banyak lagi kisah lainnya.
Perenungan terhadap sejarah bangsa kita dalam memasyarakatkan P4 kiranya dapat menjadi pelajaran yang baik bagi kita, tertutama bagi para pemimpin. Mampu menjadi teladan di tengah masyarakat merupakan kunci keberhasilan seorang pemimpin, sebagaimana telah dicontohkan oleh para Rasul dalam memipin umat manusia. Apalagi menjadi pemimpin di tengah masyarakat yang berbudaya paternalistik. Oleh karena itu, dalam memajukan bangsa ini pemimpin di negeri ini harus mampu menjadi teladan di tengah masyarakat. Kalau pemimpin tidak mampu menjadi teladan dan berbeda kata dengan perbuatan, maka jangan berharap negeri ini akan menjadi lebih baik, karena Allah sangat murka dengan sikap seperti itu (Q.S. 61 ayat 3).
(Penulis adalah Widyaiswara Kantor Diklatprov DKI Jakarta)
Oleh Amir Bahar
Membalik-balik kembali lembaran TAP MPR Nomor II/MPR/1978 tentang Pedoman Pengahayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) terutama butir-butir yang jumlahnya 36 terasa indah sekali. Semua yang disebutkan adalah nilai-nilai yang sangat mulia. Bila nilai-nilai tersebut dilaksanakan dengan baik oleh penyelenggara Negara, aparatur pemerintah, dan masyarakat tentu kehidupan negeri kita akan makmur, hubungan antarmanusia akan damai dan indah.
Namun kenyataan berbicara lain, setelah memasuki era reformasi pada tahun 1998, TAP MPR Nomor II/MPR/1978 tentang Pedoman Pengahayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) dicabut karena dianggap P4 telah disalahgunakan oleh pemegang kekuasaan. Tindak lanutnya segala sesuatu yang berkaitan dengan P4 dihilangkan. BP7 (Badan Pembinaan, Pendidikan dan Pelaksanaan P4) sebagai institusi yang bertanggung melaksanakan P4 dibubarkan.
Kalaulah kita merenung dengan hati yang jernih, bertanya tentang kebangkrutan bangsa ini, apakah karena P4 ataukah karena perilaku para pemimpin yang tidak sesuai dengan P4? Mayoritas akan memilih jawaban yang kedua, yaitu karena prilaku buruk dari para pemimpin yang semestinya dapat mencontohkan nilai-nilai mulia dari P4. Tatkala masyarakat ingin melihat contoh kehidupan nyata tentang pelakasanaan P4, yang terlihat adalah contoh jelek dari orang-orang melakukan pemasyarakatan terhadap P4 tersebut.
Kasus pemayarakatan P4 harus menjadi pelajaran bagi bangsa ini, terutama bagi para pemimpin. John Adair mengatakan bahwa apa yang pemimpin perbuat pengaruhnya lebih kuat daripada apa yang dikatakan, karena penyerapan informasi lebih banyak melalui penglihatan daripada yang didengar. Seorang pemimpin harus memberikan contoh. Jika contohnya baik orang cenderung mengabaikannya. Namun bila contohnya jelek maka orang akan segera mengetahui dan memberikan komentar. (Menjadi Pemimpin Efektif, Gramedia,1994).
Di sinilah letaknya keunggulan kitab suci al-Quran. Nabi Muhammad s.a.w. adalah contoh teladan yang baik. Q.S. 33 ayat 21 mengatakan bahwa sesungguhnya telah ada pada (diri) utusan Allah itu contoh teladan yang baik (yaitu) bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan yang banyak mengingat Allah. Wahyu Allah yang disampaikan oleh Rasul kepada manusia telah dipraktekkan dalam kehidupan Rasulullah Muhammad s.a.w. Karena itu Rasul itu adalah contoh yang baik dalam : kepemimpinan, dalam berumah tangga, sebagai seorang kaya, dalam keadaan miskin, dan dalam segala keadaan.
Selain itu al-Quran juga memberikan contoh kehidupan nyata melalui berbagai kisah, antara lain : bagaimana seorang raja yang kaya raya memerintah dengan adil yang dilakoni oleh Nabi Sulaiman a.s., bagaimana tumbangnya pemimpin yang zalim yang dilakoni Firaun, bagaimana tabahnya seorang penyeru kebaikan meskipun dikerjar-kejar mau dibunuh, yang dilakoni oleh Musa a.s., bagaimana Allah memberikan pertolongan kepada utusannya yang dianiaya oleh raja yang zalim, dalam kisah dibakarnya nabi Ibrahim a.s. oleh raja Namrud, dan masih banyak lagi kisah lainnya.
Perenungan terhadap sejarah bangsa kita dalam memasyarakatkan P4 kiranya dapat menjadi pelajaran yang baik bagi kita, tertutama bagi para pemimpin. Mampu menjadi teladan di tengah masyarakat merupakan kunci keberhasilan seorang pemimpin, sebagaimana telah dicontohkan oleh para Rasul dalam memipin umat manusia. Apalagi menjadi pemimpin di tengah masyarakat yang berbudaya paternalistik. Oleh karena itu, dalam memajukan bangsa ini pemimpin di negeri ini harus mampu menjadi teladan di tengah masyarakat. Kalau pemimpin tidak mampu menjadi teladan dan berbeda kata dengan perbuatan, maka jangan berharap negeri ini akan menjadi lebih baik, karena Allah sangat murka dengan sikap seperti itu (Q.S. 61 ayat 3).
(Penulis adalah Widyaiswara Kantor Diklatprov DKI Jakarta)
2 komentar:
Pak bisa tahu no. HP nya?
saya pingin berbagi pengalaman dengan bapak selama menjadi Widyaiswara DIKLATPIM
arik
HP. 085 334 032 686
Salam kenal P. Amir Bahar, saya pingin berbagi pengalaman dengan Bapak lebih jelasnya bisa buka Web saya di htth://slidepowerpoint.wordpress.com atau slidepowerpoint.co.cc
bisa minta no HP Bapak, biar lebih akrab
arik
HP. 085 334 032 686
Posting Komentar